AMPG Dukung UU Ciptaker, Yang kontra Diminta Prjuangkan Secara Elegan
"Menunaikan hak berdemokrasi dengan cara anarki bukan budaya Bangsa kita yang menjunjung tinggi adat ketimuran. Banyak kanal demokrasi yang tersedia. Esekutif dan LegislatifΒ juga sangat terbuka membuka ruang dialog," kata Risakotta kepada ambontoday. com di Jakarta, Sabtu (17/10/2020).
Risakotta menilai aksi berujung anarki belakangan ini bukanlah kehendak kelompok mahasiswa dan buruh. "Kalaupun ada kelompok mahasiswa atau buruh yang memprovokasi atau berlaku anarki saya yakin itu hanya oknum. Karena temuan di lapangan, dan sudah banyak di pemberitaan, rata-rata pelaku rusuh ada pelajar, masyarakat sipil yang mengenakan jaket almamater dari sebuah kampus.
Atau bahkan ada juga oknum mahasiswa yang mengenakan seragam SMA, hal ini tidak lagi jadi hal baru ketika ada aksi unjuk rasa" urai Risakotta Dia menduga, ada segelintir kelompok yang memang dari awal berseberangan dengan Pemerintah memanfaatkan momentum penolakan UU Ciptaker untuk membuat suasana gaduh kegaduhan dierah Pemerintahan Jokowi-Ma'aruf. "Di dalam kegaduhan itulah mereka menunggangi aksi mahasiswa dan buruh yang memang nawaitunya murni berjuang untuk mencabut UU Ciptaker dan mendesakΒ LegislatifΒ bersama Eksekutif untuk menyempurnakannya, bukan untuk melengserkan Rezim Pemerintah sah yang sedang berkuasa," ungkap Risakotta. Risakotta berharap, diskursus perdebatan gagasan baik kelompok pro maupun yang kontra terjadi secara produktif di ruang publik baik di media massa maupun media sosial.
"Ruang opini publik harus dipenuhi dengan konten dan narasi positif bersama yang harus dibangun untuk memajukan bangsa. Jangan biarkan ruang publik diisi oleh narasi propaganda, provokatif yang kerap dibumbui informasi hoaks, yang akan memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa kita yang tercinta ini" terangnya. Terlebih, masih kata Risakotta, aksi demonstrasi belakangan ini jauh dari penerapan protokol kesehatan di tengah kondisi bangsa ini sedang berjuang memutus mata rantai penyebaran Covid-19.
"Bukannya melarang kawan-kawan mahasiswa dan buruh atau elemen masyarakat lainnya untuk berunjuk rasa. Namun, sungguh sangat disayangkan jika aksi belakangan ini justru membuat klaster baru penyebaran Covid-19 dari massa aksi yang berkerumun," tuturnya. (AT/tim)
π Anda harus masuk (login) terlebih dahulu untuk ikut berdiskusi.
π¬ 0 Komentar
π Belum ada komentar yang ditampilkan. Jadilah yang pertama berkomentar!
Berita Terkait
Amboian Jukulele Festival 2026 Digelar di Teluk Ambon Baguala, Wali Kota Ajak Generasi Muda Lestarikan Musik Lokal
3 weeks ago
Kantor Inspektorat BurseL Dipalang, Sengketa Tanah dan Bangunan Jadi Sorotan BURSEL, Ambontoday.com
3 weeks ago
Ahli Waris Evans Reynold Alfons: Kami Percaya Pada Hukum, Bukan Opini
1 month ago
Wali Kota Ambon Buka SLCN, Tekankan Keselamatan Nelayan dan Pemanfaatan Teknologi Laut
1 month agoRekomendasi Untuk Anda
Janji La Hamidi Kontras Realita, Warga Keluhkan Minimnya Obat di RSUD Salim Alkatiri
Visi-Misi Pasangan Agus Ririmasse-Novan Liem Disambut Hangat Masyarakat Kampung Timur, Waiheru
P3
Ketua Saniri Urimessing Omong Kosong, Kepemilikan Alfons Sejak Moyang Cristofol
Sairdekut Desak Fatlolon Dan Jewerisa Minta Maaf Ke Masyarakat KKT